Rujito, Penyelamat Penyu di Desa Srigading, Bantul

Rabu Kliwon, 21 Mei 2014 11:54 WIB ∼ 951

Foto Berita

Rujito, Penyelamat Penyu

Predikat sebagai Kader Konservasi Terbaik pada tahun 2007 yang diberikan oleh Kementerian Kehutanan dan penghargaan lain yang diperolehnya dari beberapa pihak, tak membuat pak Rujito, warga Desa Sri Gading, Bantul, merasa puas dengan apa yang telah dia perjuangkan sejak awal tahun 2000. Di lahan yang tak terlalu luas, persis hanya beberapa meter dari rumah pak Rujito yang menghadap ke pantai Samas, berdiri bangunan berupa beberapa bak penampungan penyu dan gazebo untuk para tamu. Disinilah, disela-sela waktunya menjemput rejeki sebagai petani, pak Rujito selalu meluangkan waktu untuk merawat penyu yang akan dilepaskan ke alam bebas. Sayang, bangunan tersebut sekarang tak tersisa lagi. Pada tahun 2013 terjadi abrasi air laut yang menyebabkan kerusakan parah di pesisir Pantai Samas. Tak ayal lagi, bangunan dan fasilitas tempat kegiatan penyelamatan penyu bertelur pun lenyap di hantam ganasnya ombak pantai selatan. Dahulu, banyak tamu berkunjung untuk sekedar melihat tempat penyelamatan penyu yang dia rawat atau saat para tamu datang untuk ikut melebur menyelamatkan telur penyu saat penyu-penyu mendarat untuk bertelur. Tak jarang, tamu datang untuk melakukan penelitian atau bahkan menggelar acara pelepasan tukik. Biasanya mereka datang ke tempat ini sepanjang tahun,terutama saat musim penyu bertelur. “Mereka tak hanya berasal dari Yogyakarta dan kota-kota terdekat disekitarnya, namun juga dari luar negeri. Kunjungan teramai adalah pada bulan 5 sampai 8 saat penyu mendarat dan bertelur. Masyarakat yang belum pernah datang ke tempat ini, biasanya akan terperanjat saat mengetahui bahwa di tempat penyelematan penyu ini, mereka tidak bisa melihat tukik-tukik penyu yang pada umumnya dapat dijumpai di tempat-tempat penangkaran penyu”, kata Rujito. Bak-bak yang berisi penyu, hanya menampung penyu besar yang akan dilepaskan setelah sekitar 6 bulan berada di bak penampungan. Kalau ada telur yang dia selamatkan, setelah menetas, tukik-tukik akan segera dilepas ke laut bebas. Ini semua dimaksudkan agar penyu tidak melupakan habitat aslinya dan agar perwakinannya tidak terhambat. “Tempat ini bukan tempat penangkaran penyu, karena kami tidak menangkarkan penyu, tempat ini adalah untuk menyelamatkan penyu yang biasanya terdampar atau terjerat jaring nelayan,”imbuhnya. Penyu-penyu ini akan ia rawat di bak penampungan yang ia isi dengan air laut dan 1 kg ikan per hari sebagai pakannya. Ikan-ikan ini dibeli pak Rujito dari para nelayan seharga Rp.2000,- per kg dan Rp.10.000,- per kg di tempat lain apabila nelayan tidak membawa ikan yang ia butuhkan. Walaupun kadang ia harus merogoh uang dari sakunya sendiri, pak Rujito sama sekali tidak berkebaratan. Pengalamannya telah membawanya ke beberapa tempat seperti Bali, Cipatujah, dan beberapa tempat lain untuk berbagi pengalaman tentang perawatan penyu. “Kami ingin bangkit lagi. Harapan kami ada pihak-pihak yang mau membangu agar kegiatan penyelamatan penyu bisa berjalan lagi, bahkan lebih maju”, tambah Rujito. Tentu saja kita setuju, karena kiprah Rujito dan teman-temannya sangat berarti bagi pelestarian penyu di masa dating. Sebagai gambaran, selama kurun waktu13 tahun (tahun 2001-2013) sebanyak 4102 telur telah diselamatkan. Dari 4102 telur tersebut, yang berhasil menetas menjadi tukik sebanyk 2650 tukik.(Ais, sumber : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung)

Puskesmas
di Kecamatan Sanden

Puskesmas Sanden

Puskesmas Sanden

Pucanganom, Murtigading, Sanden, Bantul
(0274) 6464295, 7466886

Komando Rayon Militer Sanden

Koramil / Komando Rayon Militer Sanden

Pucanganom, Murtigading, Sanden, Bantul

Kepolisian Sektor Sanden

Polsek / Kepolisian Sektor Sanden

Jl. Kalimundu Km 1.5 Sanden, Bantul
(0274) 7101510

Kantor Urusan Agama Sanden

KUA / Kantor Urusan Agama Sanden

Pucanganom, Murtigading, Sanden, Bantul
(0274) 7491435